Rabu, 20 November 2013

makalah profesi kependidikan


BAB I
PENDAHULUAN
                             
A.    Latar Belakang
Program bimbingan dan konseling merupakan suatu rangkaian kegiatan yang terencana, terorganisasi dan terkoordinasi selam periode waktu tertentu. Yang mana program ini membantu unsur-unsur yang terdapat  dalam ketentuan BK  yang akan mewujudkan pelayann langsung terhdapa siswa. Keberhasilan penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah, tidak lepas dari peranan berbagai pihak di sekolah. Selain Guru Pembimbing atau Konselor sebagai pelaksana utama, penyelenggaraan Bimbingan dan konseling di sekolah, juga perlu melibatkan kepala sekolah, guru mata pelajaran dan wali kelas.
B.     Tujuan
Adapun tujuan dalam pembahasan makalah ini adalah untuk mengetahui peran-peran guru dalam pelayanan BK serta sekaligus juga sebagai tugas dari mata kuliah Profesi Kependidikan.
C.    Rumusan Masalah
Dalam pembahasan makalah kali ini materi yang dapat disajikan adalah sebagai berikut :
1.      Peran kepala sekolah atau Wakil
2.      Peran guru sebagai pembimbing
3.      Peran guru Mata Pelajaran
4.      Peran Wali Kelas
5.      Peran Pengawas BK
6.      Kerja sama anatr Pesrsonil dengan  Pelayan BK
BAB II
PEMBAHASAN
Keberhasilan penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah, tidak lepas dari peranan berbagai pihak di sekolah. Selain Guru Pembimbing atau Konselor sebagai pelaksana utama, penyelenggaraan Bimbingan dan konseling di sekolah, juga perlu melibatkan kepala sekolah, guru mata pelajaran dan wali kelas.
A. Peran Kepala Sekolah/ wakil
Kepala sekolah selaku penanggung jawab seluruh penyelenggaraan pendidikan di sekolah memegang peranan strategis dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Secara garis besarnya, Prayitno (2004) memerinci peran, tugas dan tanggung jawab kepala sekolah dalam bimbingan dan konseling, sebagai berikut :
1.       Mengkoordinir segenap kegiatan yang diprogramkan dan berlangsung di sekolah, sehingga pelayanan pengajaran, latihan, dan bimbingan dan konseling merupakan suatu kesatuan yang terpadu, harmonis, dan dinamis.
  1. Menyediakan prasarana, tenaga, dan berbagai kemudahan bagi terlaksananya pelayanan bimbingan dan konseling yang efektif dan efisien.
  1. Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan pelaksanaan program, penilaian dan upaya tidak lanjut pelayanan bimbingan dan konseling.
  1. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah.
  1. Memfasilitasi guru pembimbing/konselor untuk dapat mengembangkan kemampuan profesionalnya, melalui berbagai kegiatan pengembangan profesi.
  1. Menyediakan fasilitas, kesempatan, dan dukungan dalam kegiatan kepengawasan yang dilakukan oleh Pengawas Sekolah Bidang BK.
  1.  
B. Peran Guru Sebagai Pembimbing
Guru berusaha membimbing siswa agar dapat menemukan berbagai potensi yang dimilikinya, membimbing siswa agar dapat mencapai dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan mereka, sehingga dengan ketercapaian itu ia dapat tumbuh dan berkembang sebagai individu yang mandiri dan produktif.  Siswa adalah individu yang unik. Artinya, tidak ada dua individu yang sama. Walaupun secara fisik mungkin individu memiliki kemiripan, akan tetapi pada hakikatnya mereka tidaklah sama, baik dalam bakat, minat, kemampuan dan sebagainya. Di samping itu setiap individu juga adalah makhluk yang sedang berkembang. Irama perkembangan mereka tentu tidaklah sama juga. Perbedaan itulah yang menuntut guru harus berperan sebagai pembimbing.
 Tugas guru adalah menjaga, mengarahkan dan membimbing agar siswa tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi, minat dan bakatnya. Inilah makna peran sebagai pembimbing. Jadi, inti dari peran guru sebagai pembimbing adalah terletak pada kekuatan intensitas hubungan interpersonal antara guru dengan siswa yang dibimbingnya
Lebih jauh, Abin Syamsuddin (2003) menyebutkan bahwa guru sebagai pembimbing dituntut untuk mampu mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar, melakukan diagnosa, prognosa, dan kalau masih dalam batas kewenangannya, harus membantu pemecahannya (remedial teaching).  Berkenaan dengan upaya membantu mengatasi kesulitan atau masalah siswa, peran guru tentu berbeda dengan peran yang dijalankan oleh konselor profesional. Sofyan S. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah siswa yang mungkin bisa dibimbing oleh guru yaitu masalah yang termasuk kategori ringan, seperti: membolos, malas, kesulitan belajar pada bidang tertentu, berkelahi dengan teman sekolah, bertengkar, minum minuman keras tahap awal, berpacaran, mencuri kelas ringan.
Dalam konteks organisasi layanan Bimbingan dan Konseling, di sekolah, peran dan konstribusi guru sangat diharapkan guna kepentingan efektivitas dan efisien pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Prayitno (2003) memerinci peran, tugas dan tanggung jawab guru-guru mata pelajaran dalam bimbingan dan konseling adalah :
1.       Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa.
  1. Membantu konselor mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling, serta pengumpulan data tentang siswa-siswa tersebut.
  1. Mengalihtangankan siswa yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling kepada konselor.
  1. Menerima siswa alih tangan dari konselor, yaitu siswa yang menuntut konselor memerlukan pelayanan khusus. seperti pengajaran/latihan perbaikan,  dan program pengayaan.
  1. Membantu mengembangkan suasana kelas, hubungan guru-siswa dan hubungan siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan pembimbingan dan konseling.
  1. Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan layanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti /menjalani layanan/kegiatan yang dimaksudkan itu.
  1. Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa, seperti konferensi kasus.
  1. Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian pelayanan bimbingan dan konseling serta upaya tindak lanjutnya.
Jika melihat realita bahwa di Indonesia jumlah  tenaga konselor profesional memang masih relatif terbatas, maka  peran guru sebagai pembimbing tampaknya menjadi penting. Ada atau tidak ada konselor profesional  di sekolah, tentu   upaya pembimbingan terhadap siswa mutlak diperlukan. Jika kebetulan di sekolah sudah tersedia tenaga konselor profesional, guru bisa bekerja sama dengan konselor bagaimana seharusnya membimbing siswa di sekolah. Namun jika belum, maka kegiatan pembimbingan siswa tampaknya akan bertumpu pada guru.
Agar guru dapat mengoptimalkan perannya sebagai pembimbing, berikut ini  beberapa hal yang perlu diperhatikan:
  1. Guru harus memiliki  pemahaman tentang anak yang sedang dibimbingnya. Misalnya pemahaman  tentang gaya dan kebiasaan belajar serta pemahaman tentang potensi dan bakat yang dimiliki anak, dan latar belakang kehidupannya. Pemahaman ini sangat penting, sebab akan menentukan teknik dan jenis bimbingan yang harus diberikan kepada mereka.
  1. Guru dapat memperlakukan siswa sebagai individu yang unik dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan keunikan yang dimilikinya.
  1. Guru seyogyanya  dapat menjalin hubungan yang akrab, penuh kehangatan dan saling percaya, termasuk di dalamnya berusaha menjaga kerahasiaan data siswa yang dibimbingnya, apabila data itu bersifat pribadi.
  1. Guru senantiasa memberikan kesempatan kepada siswanya untuk mengkonsultasikan berbagi kesulitan yang dihadapi siswanya, baik ketika sedang berada di kelas maupun di luar kelas.
  1. Guru sebaiknya dapat memahami prinsip-prinsup umum konseling dan menguasai teknik-tenik dasar konseling untuk kepentingan pembimbingan siswanya, khususnya ketika siswa mengalami kesulitan-kesulitan tertentu dalam belajarnya.
C. Peran Guru Mata Pelajaran
Di sekolah, tugas dan tanggung jawab utama guru adalah melaksanakan kegiatan pembelajaran siswa. Kendati demikian, bukan berarti dia sama sekali lepas dengan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling. Peran dan konstribusi guru mata pelajaran tetap sangat diharapkan guna kepentingan efektivitas dan efisien pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Bahkan dalam batas-batas tertentu guru pun dapat bertindak sebagai konselor bagi siswanya. Wina Senjaya (2006) menyebutkan salah satu peran yang dijalankan oleh guru yaitu sebagai pembimbing dan untuk menjadi pembimbing baik guru harus memiliki pemahaman tentang anak yang sedang dibimbingnya. Sementara itu, berkenaan peran guru mata pelajaran dalam bimbingan dan konseling, Sofyan S. Willis (2005) mengemukakan bahwa guru-guru mata pelajaran dalam melakukan pendekatan kepada siswa harus manusiawi-religius, bersahabat, ramah, mendorong, konkret, jujur dan asli, memahami dan menghargai tanpa syarat. Prayitno (2003) memerinci peran, tugas dan tanggung jawab guru-guru mata pelajaran dalam bimbingan dan konseling adalah :
1.       Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa
  1. Membantu guru pembimbing/konselor mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling, serta pengumpulan data tentang siswa-siswa tersebut.
  1. Mengalihtangankan siswa yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling kepada guru pembimbing/konselor
  1. Menerima siswa alih tangan dari guru pembimbing/konselor, yaitu siswa yang menuntut guru pembimbing/konselor memerlukan pelayanan pengajar /latihan khusus (seperti pengajaran/ latihan perbaikan, program pengayaan).
  1. Membantu mengembangkan suasana kelas, hubungan guru-siswa dan hubungan siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan pembimbingan dan konseling.
  1. Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan layanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti /menjalani layanan/kegiatan yang dimaksudkan itu.
  1. Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa, seperti konferensi kasus.
  1. Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian pelayanan bimbingan dan konseling serta upaya tindak lanjutnya.
D. Peran Wali Kelas
1.       Sebagai pengelola kelas tertentu dalam pelayanan bimbingan dan konseling, Wali Kelas berperan :
  1. Membantu guru pembimbing/konselor melaksanakan tugas-tugasnya, khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya;
  1. Membantu Guru Mata Pelajaran melaksanakan peranannya dalam pelayanan bimbingan dan konseling, khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya;
  1. Membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa, khususnya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya, untuk mengikuti/menjalani layanan dan/atau kegiatan bimbingan dan konseling;
  1. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan khusus bimbingan dan konseling, seperti konferensi kasus; dan
  1. Mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling kepada guru pembimbing/konselor.
E. Peranan Pengawas BK
            Peranan guru pada umumnya mempunyai peranan dan kedudukan kunci didalam keseluruhan proses pendidikan terutama dalam pendidikan formal bukan dalam kesatuan pembangunan masyarakat pada umumnya. Peranan yang demikian itu akan menjadi tampak kalau dikaitkan dengan kebijkan dan program pembangunan dalam pendidikan yaitu berkenaan dengan peningkatan hasil pendidikan itu sendiri. Dalam keadaan semacam itu mempunyai klasifikasi sesuai dengan  tugas diantaranya adalah sebagai berikut :
1.      Tugas profesional
Yaitu tugas yang berkenaan dengan profesinya, tugas ini mencakup tugas mendidik, mengajar, dan melatih  serta mengelola ketertiban sekolah sebagai penunjang ketahan sekolah.
2.      Tugas manusiawi
Tugasnya sebagai manusia , dalam hal in gur bertugas mewujudkan dirinya, melakukan auto identifikasi untuk dapat menempatkan dirinya didalam keseluruhan kemanusiaan sesuia dengan martabat manusia.
3.      Tugas kemasyarakatan
Yaitu, tugas guru sebagai anggota masyarakat dan mengawas dengan baik, sesuia dengan kaidah-kaidah yang terdapat dalam pancasila. Ketiga pokok tersebut harus tercermin secara terpadu dalam penampilannya pada proses belajar mengajar. Guru bukan hanya sekedar penyampaian mata pelajaran saja, akan tetapi  juga menempatkan metode mengajar.
F. Kerja Sama Antar Personil Sekolah dan guru pembimbing
Dalam kegiatan belajar mengajar sangat diperlukan adanya kerjasama antara guru pembimbing demi tercapainya tujuan yang diharapkan. Pelaksanaan tugas pokok guru dalam proses belajar tidak akan dipisahkan dari keinginan bimbingan. Sebaiknya layanan bimbingan disekolah perlu dukungan ataupun bantuan guru. Dalam hal ini Rahman Natawidjaya dan Moh Surya (1985) mengutip pendapat yang mengatakan bahwa :
a.       Proses belajar mengajar sangat efektif apabila bahan yang dipelajari dikaitkan langsung dengan tujuan pribadi siswa. Ini berarti dituntut untuk memahami kesulitan  siswa.
b.      Guru yang memahami siswa dan masalah-masalah yang dihadapi lebih peka terhadap hal-hal yang dapat memperlancardan mengganggu kelancaran kegiatan kelas. Guru mempunyai kesempatan yang luas untuk mengadakan  pengamatan terhadap siswa yang diperkirakan mempunyai masalah.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa layanan bimbingan sekolah akan lebih efektif bila guru mendapatkan dan bekerja sama dengan pembimbing sekolah dalam proses pembelajaran. Guru pembimbing mempunyai keterbatasan dalam hal yang berkaitan dengan kurangnya waktu untuk bertatap muka denga siswa. Kerjasama guru pembimbing dengan walikelas sebagai pengelola kelas tertentu sangat erat dan besar sekali. Terutama membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa, khusunya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya untuk mengikuti layanan atau kegiatan bimbingan konseling kepada guru pembimbing. Denga kata lain wali kelas membantu guru pembimbing melaksanakan tugas-tugasnya dalam pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah.
 BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa peran guru sangat penting dalam proses belajar mengajar khususnya guru pembimbing. Bahwa layanan bimbingan sekolah akan lebih efektif bila guru mendapatkan dan bekerja sama dengan pembimbing sekolah dalam proses pembelajaran. Guru pembimbing mempunyai keterbatasan dalam hal yang berkaitan dengan kurangnya waktu untuk bertatap muka denga siswa. Kerjasama guru pembimbing dengan walikelas sebagai pengelola kelas tertentu sangat erat dan besar sekali. Terutama membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa, khusunya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya untuk mengikuti layanan atau kegiatan bimbingan konseling kepada guru pembimbing. Denga kata lain wali kelas membantu guru pembimbing melaksanakan tugas-tugasnya dalam pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah.
B.     Saran
Dengan mempelajari Profesi Kependidikan ini sehendaknya kia dapat menambah wawasan serta pengetahuan tentang peran dan tugas guru dalam memberikan pelayanan terhadap muridnya. Tidak dari makalah ini saja tetapi  sehendaknya menambah wawasan dari media-media lain khusunya kita sendiri sebagai calon pendidik. Semoga makalah ini berguna bagi pembaca.




Jumat, 05 April 2013

MAKALAH PSIKIATRI


PENDEKATAN PENDEKATAN DALAM PSIKIATRI

A.   Pendekatan biologis

Menurut model ini, prilaku abnormal timbul karena aneka kondisiorganis tak sehat yang merusak fungsi sistem syaraf pusat di otak. Gangguan prilaku di pandang sebagai suatu penyakit yang langsung menyerang otak atau keadaan tidak ideal pada tubuh yang akhirnya juga berakibat mengganggu atau melumpuhkan kerja otak.Contohnya adalah infeksi sipilis tahap lanjut yang menyerang otak atau keracunan obat dan malnutrisi atau kekurangan gizi yang dapat mempengaruhi secara negatif kerja otak. Untuk mengatasinya, sumber gangguan yang bersifat biologis atau fisik itu perlu diatasi atau dihilangkan dengan obat-obatan.Pendekatan ini juga disebut dengan pendekatan medis.
Menurut marlina (bahan ajar mata kuliah psikiatri 5: 2007) pendekatan dalam psikiatri yang memandang ganggguan mental sebagai penyakit saraf pusat yang di sebabkan oleh patologi otak. Akar dari pandangan biologis di tandai oleh tiga hal yaitu:
1.      Patologi otak sebagai factor penyebab
2.      Penyebab biokimiawi atas abnormalitas
3.      Factor factor genetic dalam abnormalitas

B.     Pendekatan Psikoanalistik 

Model ini diturunkan dari teori psikoanalisis yang dikemukakan oleh Sigmund Freud. Menurut Freund, aneka situasi menekan yang mengancamakan menimbulkan kecemasan dalam diri seseorang. Kecemasan ini berfungsi sebagai peringatan bahaya sekaligus merupakan kondisi tak menyenangkan yang perlu di atasi.  Menyenangkan yang perlu diatasi. Jika individu mampu mengatasi sumber tekanan, kecemasan akan hilang. Sebaliknya jika gagal dan kecemasan terus mengancam, mungkindengan intensitas yang meningkat pula maka individu akan menggunakan salah satu atau beberapa bentuk merkanisme pertahanan diri.langkah ini secara suprfisial dapat membebaskan individu dari kecemasannya, namun akibatnya dapat timbulkesenjangan antara pengalaman individu dan realitas.
Model psikionalitik dalam mengkaji gangguan pasien senantiasa menilik-jauh ke masa masa pekembangan pasien. Kajian itu ingin melihat kalau kalu pasien pernah trauma atau frustasi yang di alami dalam menjalani kehidupan, yaitu masa oral, masa anal, masa phallis, masa laten,hingga masa genital. Lebih jauh lagi, mengkaji secara hipnotisbekas tauma di alam ketidak sadaran si pasien.
Untuk menolongnya, sumber gangguan berupa frustasiberat yang di tekan kedalam ketidak sadaran itu harus di bongkar, di angkat ke permukaan untuk selanjutnya di terima atau di akui dan di atasi, lewat teknik psikoanalitik.

C.     Pendekatan Behavioristik 

Pada pendekatan ini, penyakit gangguan prilaku adalah proses belajar yang salah. Bentuk kesalahan belajar itu ada dua kemungkinan yaitu:
pertama, Gagal mempelajari bentuk prilaku atau kekacauan adaptif  yang diperlukan dalam hidup. Kegagalan ini dapat bersumber tidak adanya kesempatan untuk belajar. Misalnya, seorang anak laki laki di besarkan ibunya, sudah dewasa dia bersifat feminism, karena tidak pernah menemukan model untuk mempelajari sifat sifat dan peran lelaki.  
Kedua, Mempelajari tingkah laku yang mal adaptif. Misalnya, seorang anak yang telah dewasa cendrung agresif dan asocial karena di besarkan di tengah keluarga yang retak dengan ayah pemabuk, senang memukuli istri dan anak anaknya.
            Menurut model behavioristik, tingkah laku mal adaptif yang terlajur terbentuk dapat di hilangkan dengan cara yang bersangkutan ditolong belajar menghilamgkannya sekaligus mempelajari tingkah laku baru yang lebih menjamin kebahagiaan bagi dirinya sendiri maupun dalam hubungannya dengan orang lain.

D.    Pendekatan kognitif
Pendekatan ini merupakan kelanjutan dari pendekatan behaviorisme, dimana pendekatan kognitif berpendapat bahwa kognisi adalah pikiran dan keyakinan yang membentuk perilaku kita maupun emosi yang kita alami.


E.     Pendekatan Humanistik 

Menurut pendekatan humanistik, penyebab gangguan prilaku adalah terhambat atau terdistorikannya perkembangan pribadi dan kecendrunganwajar arah kesehatan fisik dan mental. Hambatan ini bersumber dari faktor:
a.                 Penggunaan mekanisme pertahanan diri yang berlebihan sehingga individu semakin kehilangan kontak dengan realitas.
b.                 Kondisi sosial yang tidak menguntungkan serta proses belajar yang tidak semestinya.
c.                 Stress yang berlebihan.
     
Menurut pendekatan ini, tujuan psikotrapi adalah menolong individu meninggalkan benteng-benteng atau topeng topeng pertahanan diri dan belajar mengakui dan menerima pengalamanpengalaman sejati mereka, belajar mengembangkan bentuk kompetensi yang diperlukan dan menemukan nilai-nilai hidup.

F.      Pendekatan Eksistensial

Menurut para eksistensial, manusia modern terjebak dalam situasi hidup tidak menyenangkan yang merupakan buah pahit dari modernisasi yang berupa:
a.    melemahnya nilai-nilai tradisional,
b.      krisis iman,
c.       hilangnya pengakuan atas diri individu sebagai pribadi akibat berubahnya masyarakat agraris/ tradisional ke arah masyarakat biokratik yang melayani bersifat missal
d.      menghilangnya banyak hal yang dapat menjadi sumber makna hidup, seperti, persahabatan, kesetiakawanan, gotong royong, dan sebagainya.

Dengan kata lain, orang modern mengalami alienasi atau keterasingan. Ia tidak lagi mengenal tuhan, tidak lagi mengenal sesamanya, bahkan tidak belaka. Situasi ini membuat orang merasa kosong hidupnya, merasa serba cemas, dan akhirnya terperosok kedalam psikopatologi. Maka, menurut modelek sistensial, tujuan psikoterapi adalah menolong orang menjernihkan nilai hidupnya dan membuat hidup lebih bermakna. Sebagai makhluk yang di yakini mampu membuat keputusan pilihan secara rasional dan bertanggung jawab, individu ditolong mmengembangkan gaya hidup yang lebih menjamin terciptanya hubungan yang konstruktif dengan sesamanya serta tercapai pemenuhan diri.  

G.    Pendekatan Interpersonal

Menurut model ini, hubungan antar pribadi yang tidak memuaskan salah satu pihak merasa bahwa keuntungan yang di terimanya tidak sepadan dengan pengorbanan yang telah di berikannya, maka ia akan merasa rugi dan menderita. Kalau ia memiliki cukup kebebasan, mungkin ia akan memutuskan hubungan tersebut. Sebaliknya, kalau ia tidak dapat keluar dari situasi hubungan tidak adil yang menibulkan penderitaan itu, setelah melewati batas kemampuan tertentu, mungkin ia akan ambruk terjerembab kedalam psikopatologis.
  Menurut model ini, tujuan psikoterapi adalah menolong orang keluar dari hubungan yang bersifat patogenik atau menimbulkan masalah, dan mengembangkan hubungan hubungan baru yang yang lebih manusiawi dan memuaskan.

H.    Pendekatan Sosiokultur
Sumber penyebab utama prilaku abnormal adalah keadaan obyektif dimasyarakat yang bersifat merugikan, seperti kemiskinan, diskriminasi, dan prasangka ras, ataupun kekejaman dan kekerasan. Maka bentuk stressoratau situasi menekan di berbagai tempat dapat berbeda beda bergantung kontekssosiokultural dimana individu hidup.
Misalnya, dii daerah pedesaan yang masyarakatnya bersifat homogen, sumber utama penyebab gangguan  perilaku kemungkinana besar adalah kemiskinan. Sebaliknya, di kota kota besar dengan dengan masyarakat yang heterogen, penyebab penting timbulnya gangguan perilaku dikalangan kelompok minoritas mungkin berupa diskriminasi. Selain itu, pola gangguan perilaku di suatu masyarakat  dapat berubah ubah sejalan dengan perubahan peradapan. Sebagai contoh, pada masa ketika sigmun freud hidup, gangguan perilaku yang banyak di temukan pada kaum wanita adalah sejenis neorosis yang disebut hysteria. Pada zaman modern sekarang, gangguan yang cukup  ‘populer ‘ dimana mana, khususnya di kota kota besar adalah stress.
KESIMPULAN
A.    Pendekatan biologis
Pendekatan yang memandang terjadinya gangguan pada pusat sitem syaraf pusat (patologi otak).
B.     Pendekatan psikoanalitis
Pendekatan yang memandang terjadinya abnormalitas pada psikologis seseorang.
C.   Pendekatan behavioristik
Pendekatan ini memandang terjadinya ke abnormalan pada tingkah laku seseorang dan prilaku seseorang yang di sebabkan dengan pengajarannya pada waktu masih kecil.
D.   Pendekatan kognitif
Pendektan memandang terjadinya mal adaptif bersebab karena kognitif seseorang.
E.     Pendekatan humanistic
Pendekatan ini memandang penyebab gangguan prilaku adalah terhambat atau terdistorikannya perkembangan pribadi dan kecendrunganwajar arah kesehatan fisik dan mental.
F.      Pendekatan eksistensial
Pendekatan ini menekankan pada realitas primer kesadaran atau pengalaman dan keputusan keputusan individual yang dilakukan secara sadar.
G.    Pendekatan interpersonal
Pendekatan ini menekankan pada peran relasi antar pribadi dan membentuk perkembangan dan prilaku individual.
H.    Pendekatan sosiokultural
Pendekatan ini menekankan pada perubahan social dan ketidak pastian yang terjadi di lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
marlina.2007.bahan ajar mata kuliah psikiatri.unp: padang
MFI baihaqi dkk.2007.psikiatri. PT.refika aditama: bandung